Minggu, 25 Juli 2010

EKONOMI

   Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Istilah "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.
   Perkembangan ekonomi manusia mengalami kemajuan dari zaman ke zaman. Mulai ekonomi zaman kuno, ekonomi zaman saudagar, ekonomi zaman modal, ekonomi zaman pasca modern. Berikut uraian dari perkembangan ekonomi manusia dari zaman ke zaman.

* EKONOMI ZAMAN KUNO(Berburu, Bertani, dan Bermukim membangun kerajaan)

   Ribuan tahun yang lalu, dikalamasa pemerintahan kerajaan Mesir atau kerajaan-kerajaan besar lainnya seperti Aztek di Meksiko atau Babilonia dilembah sungau Eufrat dan Tigris di Irak sekarang ini, atau juga kerajaan Yunani di Laut tengah sampai kerajaan Romawi serta dinasti raja-raja di Cina, menunjukkan bahwa manusia pernah mempunyai kehidupan yang jaya dan berkecukupan. Mereka telah mempunyai kehidupan ekonomi dan tidak bisa dikatakan sebagai bangsa yang terbelakang. Peninggalan peradaban dan dasar-dasar pengetahuan juga masih kita pergunakan sampai sekarang ini, seperti ilmu, ukur, ilmu falak, atau ilmu pengairan dan bangunan.
   Pada permulaan kehidupan, manusia mengandalkan hasil perburuan, hutan alam, dan makan dari apa yang dihasilkan oleh alam.
   Kemudian mereka membentuk kelempok-kelompok yang lebih besar atau disebut sebagai komunitas sosial dan tak lagi mengandalkan hasil perburuan tetapi mulai bercocok tanam, menyimpan hasilnya untuk dimakan di musim berikutnya. Satu komunitas  menghasilkan jenis tanaman atau makanan tertentu (misalkan gandum atau jagung), yang lain bisa menanam sayuran tau buah-buahan. Satu kelompok dalam komunitas bisa sangat mahir dalam berburu rusa atau menangkap ikan dan menghasilkan daging dan ikan yang bisa dikeringkan atau diasap untuk persediaan di musim dingin, lainnya mahir dalam membuat alat-alat rumah tangga, merajut, membuat perkakasdari tanah liat, perunggu atau besi, atau membuat bahan bangunan dan sebagainya. Muncullah pembagian pekerjaan dalam masyarakatmenurut keahlian yang dimiliki. Hasil akhirnya kemudian dikumpulkan dan dibagi bersama.
   Awalnya ekonomi pada zaman itu hanya berupa pertukaan atau barter, antara barang yang satu dengan yang lainnya diantara kelompok atau komunitas. Hal ini masih berlangsung di pedalaman pulau kalimantan atau papua di Indonesia. Inilah bentuk perdagangan zaman dahulu. Namun harus digarisbawahi semua usaha ini hanya sebatas untuk mencukupi keperluan sehari-harinya, disimpan untuk persediaan musim berikut, atau dipertukarkan untuk mendapatkan barang yang tidak bisa dihasilkan sendiri, atau dipakai untuk persediaan bersama untuk keperluan komunitasnya.
   Pada zaman itu untuk menjalankan pekerjaan sehari-hari, terutama untuk produksi pertanian semua dikerjakan dengan tenaga manusia. Pada awalnya, ini dilakukan secara sukarela dan bersifat tolong menolong, tapi karena perebutan dan peperangan antar suku maka yang kalah dijadikan budak untuk diperas tenaganya. Tenaga budak adalah bagian dari roda ekonomi, karena itu budak mempunyai nilai ekonomi, bisa diperjual-belikan seperti kita menjualbeli kerbau atau sapi.
   Salah satu perkembangan penting peradaban manusia adalah menemukan logam-logam, seperti besi, perunggu, serta perak dan emas. Logam-logam ini berguna sebagai alat perkakas, senjata atau perhiasan. Selanjutnya logam-logam ini mulai dikenal dan dipergunakan sebagai alat tukar. Koin mata uang mulai dibuat, baik dari besi, peruggu, perak, atau emas. Kebiasaan ini ternyata berjalan hingga sekarang. Emas merupakan standart alat tukar.

* EKONOMI ZAMAN SAUDAGAR (Memperluas Hubungan Perdagangan antar Bangsa)

   Dengan runtuhnya kerjaan zaman Romawi, muncullah raja-raja kecil, atau orang-orang kuat bekas hulubalang keajaan dan orang-orang kaya pemilik budak yang berusaha melanjutkan kehidupan sosial ekonominya. Para bos/ raja kecil/ baro/ adipati/ sultan/ dan sebutan lainnya ini mengatur perdagangan hasil pertanian dan menjamin keperluan hidup kelompok keluarga yang hidup diatas tanah mereka. Inilah sistem kehidupan feodal.
   Hubungan dagang mulai dilakukan dengan masyarakat yang jauhdari wilayah atau kerajaan, bahkan di bagian benua lain mulai dari Istanbul sampai ke Cina, melintasi benua Asia, Italia ke India bahkan sampai Malaka dan Jawa. Pada zaman ini bandar-bandar besar menjadi kota-kota yang ramai dan masih ada hingga kini. Di bandar-bandar ini semua orang bertemu untuk berdagang atau saling menukar barang. Tempat bertemu dan berdagang inilah yang disebut pasar.
   Para pedagang  dari Gujarat dn pesisir Arab selain berdagang mellui pelayarannya juga membawa agama Islam dan menyebarkan pengaruhnya. Sementara itu masyarakat Eropa terpecah-pecah dalam kelompok kerajaan kecil, diantaranya adalah para mantan hulubalang kerajaan yang menjadi baron, tokoh berpengaruh dari gereja(pendeta kristen) yang tidak mau dikuasai/ dibawahi satu dengan yang lainnya. Pada waktu Asia tengah, Arab dan Asia timur berdagang dan membina hubungan internasional serta membangun bandar-bandar besar, maka Eropa masih dalam kegelapan, saling berperang, saling berebut dan saling baku bunuh.
  Akibat dari keadaan inilah yang mengakibatkan timbulnya ajaran bahwa orang yang mulia adalah orang yang hidup lebih mandiri, mendapat penghasilan dari keringatnya sendiri sebagai orang merdeka, dan tidak terikat atau menghamba kepada kehidupan pertanian yang tanah-tanahnya dikuasai oleh baron. Situasi ini menjadi cikalbakal perkembangan ekonomi modern pada babak berikutnya.

* EKONOMI ZAMAN MODAL (Munculnya Kapitalisme Modern)

   Ekonomi modal atau kapitalisme dimulai pada abad ke-16. Mereka memerlukan modal, alat-alat kerja dan jaringan kerjasama untuk pemasaran dan perdagangan. Berproduksi atau membuat karya nyata serta mandiri adalah tujuan ekonomi kelompok ini. Hubungan dari unsur-unsur produksi ini menjadi sebuah pendirian yang bersifat klasik :tanah, tenaga, dan modal (land, labour, and capital). Inilah dasar dari ekonomi modern.
   Buruh-buruh tani yang selama ini bekerja di tanah-tanah kaum feodal, dengan semangat "reformasi", mereka keluar dari wilayah pertanian dan menjadi pekerja bebas. Mereka masuk ke kota-kota dan menjual jasa tenaga kerja mereka, namun mereka bukan lagi budak. Demikian pula dari reformasi ini muncul pula kelompok pemolik modal yang tak lagi merasa perlu bekerja dibawah para bangsawan. Mereka bekerja sama dengan para pedagang atau pengrajin, memberi modal dan berbagi keuntungan. Keuntungan dicari dengan membuat produk yang paling baik dan paling murah biaya produksinya. Inilah awal dari ilmu ekonomi produksi yang mendasari tumbuhnya industri, dan cara kerja yang paling efisien, berdisiplin, cermat, penuh perhitungan, dan saling menguntungkan. Selain nilai-nilai positif tersebut, yaitu mandiri, tekun, dan bersemangat, juga muncul sisi lain nilai-nilai baru yang lahir, mereka juga bisa dilihat sebagai manusia egois dan tamak, atau tak lagi menghargai kebersamaan kelompok dan tak mau berbagi sesamanya.
   Saat itu, waktu telah sangat diperhitungkan sehingga timbul istilah "TIME IS MONEY" (waktu adalah uang). Karena bagi pemilik modal, selama modalnya terpakai dalam usaha maka dia harus menuggu dan menunda kenikmatan hasilnya. Timbullah istilah Investasi, yaitu komitmen untuk menunda konsumsi dalam jangka waktu tertentu guna memperoleh keuntungan yang diharapkan dengan mempertimbangkan resiko yang mungkin terjadi. Dasar dari ilmu ekonomi klasik adalah : tenaga dibayar dengan upah, tanah dibayar dengan sewa, dan modal dibayar dengan keuntungan. Tanah tanpa tenaga tak akan tergarap, tenaga tanpa upah tak akan bisa membeli keperluannya, tanah dan tenaga perlu modal untuk berproduksi, dan modal tanpa keuntungan tak akan berkembang.
   Para pelaku ekonomi ini hanya terikat dan berhubungan atas dasar mencari maisyah/ pendapatan bersama, masing-masing mencoba mendapatkan jatahnya dalam bentuk sewa, upah, atau keuntungan.
   Karena luas tanah terbatas dan sudah terbagi, sementara jumlah tenaga kerja relatif berlimpah, maka posisi modal menjadi lebih tinggi. Pemodal menjadi orang penting dan mereka memberikan syarat untuk modalnya dan dinyatakan dalam bentuk "tingkat keuntungan" yang diinginkan. inilah awal dari konsep "TIME VALUE OF MONEY" atas pinjaman.Yaitu kompensasi atas tertundanya kenikmatan dari kekayaan atau modal yang dimiliki akibat dipakai pihak lain untuk mendapatkan hasil dan keuntungan produksi. Dari sinilah ekonomi berdasar modal lahir, bentuk asal dari kapitalisme, dimana uang mempunyai nilai keuntungan minimum yang diukur oleh "tingkat bunga". Uang atau modal menjadi komoditi yang juga bisa diperdagangkan.

* EKONOMI ZAMAN PASCA MODERN

# Kapitalisme Global Masa Kini
   Mundur sedikit, akhir abad ke-19, pada saat negara-negara Eropa menuju tahun 1944, para ahli ekonomi 40 negara berkumpul di Bretton Woods, AS. Mereka berunding tentang bagaimana cara menstandarkan perdagangan antar negara untuk mencegah terjadinya depresi ekonomi dan perang dunia kembali. Amerika Serikat sebagai pemenang perang jelas lebih berpengaruh dalam perundingan tersebut. Sehingga diputuskan untuk mengikuti usulan Amerika Serikat : (1) Dibentuk IMF (International Monetary Fund) yang akan mengatur stabilitas nilai tukar internasional dan menjadi forum musyawarah untuk menetapkan nilai tukar ; (2) Ditetapkan nilai tukar mata uang secara tetap dan terkait dengan emas, yang pada waktu itu Amerika Serikat mempunyai cadangan emas paling besar ; ini berarti dollar menjadi mata uang yang paling kuat dan diikuti oleh semua negara ; (3) Perubahan nilai tukar hanya boleh dilakukan melalui persetujuan dari IMF setelah melalui penilaian apakah memang dasar-dasar ekonomi negara yang bersangkutan layak dan mendukung.
   Namun sistem ini tidak berjalan mulus karena masing-masing negara mencari akal untuk mengatrol nilai tukarnya meskipun ekonominya terpuruk, melanggar kaidah ekonomi pasar dan tidak melalui persetujuan IMF sebagaimana tadinya disepakati. Akibat akal-akalan dan ketidak jujuran pemerintah negara-negara ini maka terjadi kesenjangan antara nilai mata uang yang beredar dengan nilai yang sesungguhnya (diukur dengan cadangan emas dan hasil perdagangan). Kesenjangan ini mengakibatkan terjadinya deflasi atau inflasi. Deflasi yaitu nilai mata uang lebih besar daripada nilai barang yang beredar. Inflasi yaitu nilai mata uang lebih kecil daripada nilai barang yang beredar.
   Seiring dengan perkembangan teknologi termasuk komputer, internet yang merupakan salah satu anak produk industri militer juga dipakai dan dimanfaatkan untuk kepentingan pertumbuhan modal. Militer dan modal berjalan seiring. Politik melayaninya.
   Akibat dari persaingan yang semakin tajam ini, maka sulit mencapai kesepakatan damai untuk berdagang diantara semua negara. Apalagi ekonomi menjadi ajang perang ideologis. Dengan adanya kesenjangan mata uang yang terus berjalan, dan dalam masa ini maka gejolak deflasi untuk menutup ketidak seimbangan perdagangan menjadi hal yang periodik harus dilakukan. Hal ini terlihat dan menjadi incaran para spekulan. Tak jelas apakah spekulan itu murni mencari untung atau juga punya agenda politik untuk menjatuhkan negara tertentu. Inilah namanya ekonomi-politik, bukan lagi murni ekonomi modal. Keadaan memang semakin rumit dan tak sesederhana yang dilihat di permukaan.

# Barang Dagangan Baru (Uang, Bunga, Prospek)
   Seperti diterangkan sebelumnya, untuk bisa berproduksi maka perlu modal, selain tanah dan tenaga. Keperluan akan modal menumbuhkan satu kelompok baru dalam masyarakat, yaitu para investor, pemodal. Mereka tidak ikut bertani atau bertukang, tetapi ikut membiayai dan ikut mendapatkan untung. Seringkali pemodal tidak tahu mencari orang atau petani atau perusahaan yang memerlukan uang. Dan petani, tukang atau pemilik industri tidak tahu kemana mencari modalnya. Dari sinilah terbuka peluang baru bagi pekerjaan bank, broker investasi, manajer investasi, yaitumenjadi perantara, penghubung antara investor (yang menaruh uang) dengan pebisnis (yang memerlukan uang). Kalau investor dan pebisnis bertemu langsung lalu membuat perjanjian kerjasama usaha, maka ini disebut kongsi, syarekah, bagi untung dan bagi rugi. Kalau perantaranya ikut bergabung dalam kongsi dan membantu pencatatan dan manajemen, inilah prinsip kerja bank syariah. Lalu diatur manajemen dan pengawasan kerja agar usaha berjalan baik, kalaupun ada rugi itu diketahui semua pihak dan memang setelah melalui upaya-upaya yang disepakati semua pihak namun tidak berhasil karena satu dan lain sebab. Untung dan rugi sama-sama dipikul.
   Berbeda dengan sistem diatas, semangat yang ingin mandiri telah menimbulkan sifat individualisme yang tinggi. Investor tidak ingin berkongsi atau mendirikan syarekah. Mereka cuma minta diberi untung dan dijamin didepan. Itu yang disebutkan sebagai bunga atas uangnya. Pada umumnya institusi perantara (bank, jasa investasi) melayani para investor individualis seperti ini. Lalu bank menegoisasi, memberi keuntungan ke investor (sebagai bunga deposito, sebesar a), dan bank memungut bunga  atas pinjaman dari sisi peminjam (katakan sebesar b). Nilai b selalu lebih besar dari a, dan dari situlah bank mengambil keuntungan, selisih dari bunga diterima dari peminjam dengan bunga dibayarkan ke penabung/investor. Nilai a dan b ditetapkan didepan. Resiko rugi atau keuntungan dari usaha yang dilakukan dengan uang pinjaman itu ditanggung / diserahkan sepenuhnya kepada pebisnis. Umumnya pebisnis bergerak dalam sektor riil, atau yang nyata ada, seperti pertanian, pertukangan, perpabrikan, perdagangan dan sebagainya. Untuk itu bank meminta jaminan senilai atau lebih tinggi dari pinjaman (dan ini adalah benda bergerak dan tak bergerak yang riil pula, seperti tanah kendaraan bermotor) plus mengendalikan arus uang.
   Namun kenyataannya keuntungan bank dari bisnis riil ini (yaitu selisih bunga b-a) ini relatif kecil bila dibandingkan dengan kesempatan lain yang menjadi fenomena ekonomi masa kini. Yang dibisniskan bukan lagi barang riil atau perdagangan riil, tapi adalah uang itu sendiri, atau "prospek keuntungan bisnis" atau "bunga" itu sendiri, bahkan "hutang" atau "tagihan"nya itu sendiri. Inilah perdagangan dalam sektor tidak riil atau sektor keuangan. Beberapa contoh mungkin bisa menjelaskan :

# Contoh-contoh bisnis sektor keuangan atau tak riil
   1. Perdagangan uang terjadi dalam bisnis valuta asing, orang membeli rupiah atau menjual dollar. Ini bisa dilakukan langsung (benda lembar mata uangnya ada dan dibeli / dijual dengan lembar mata uang yang lain) dan biasanya dilakukan pedagang valuta eceran, tetapi juga dapat dilakukan dalam jumlah besar. Jual beli dalam jumlah besar bisa dilakukan karena ada permintaan uang dalam jumlah besar, misal perusahaan besar harus membayar hutang dollarnya atau negara maumempengaruhi pasar valuta dengan melepas atau membeli dollar. Kombinasi dari semua transaksi mata uang didunia saat ini mencapai jumlah trilyunan dollar per sepuluh detik. Ini dimungkinkan dengan proses transfer secara elektronik menggunakan telepon dan satelit. Tetapi jangan dibayangkan setiap hari ada tumpukan kertas berpindah-pindah diangkut pakai kapal, yang terjadi hanya catatan di komputer yang berubah, tapi uangnya tak pernah kelihatan. Makanya hal ini disebut sektor "tidak riil".
   2. Deposito, lazim di semua bank, kerugian ditanggung bank, dan ujung-ujungnya pemerintah ikut menjamin, yaitu LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Kita menyimpan uang dan membolehkan uang kita dipakai bank untuk dipinjamkan. Peminjam membayar bunga kepada bank, kerugian ditanggung peminjam dan ada jaminan aset. Penabung mendapat bunga dari bank dalam jumlah tetap. Tidak ada resiko bagi penabung kecuali resiko makro seperti : Inflasi dan perubahan valuta asing.
   3. Obligasi, seperti deposito, investor (bisa pribadi) meminjamkan uang dan diberikan surat tetapi yang mengeluarkan adalah pemerintah atau perusahaan. Setiap bulan diberikan prosentase uang (disebut kupon) atas besarnya obligasi dan pada akhir waktu dibayarkan kembali penuh.
   4. Jual-beli saham, seperti jual beli biasa, tergantung pintar-pintar membaca prospek, kapan mesti jual dan beli. Sesungguhnya bukan sahamnya yang kita beli, tapi prospek keuntungan diatas saham itu yang mau kita beli. Tak ada jaminan kecuali bahwa saham yang diperdagangkan itu sudah diperiksa dan laporan perusahaan itu benar adanya menurut lembaga resmi yang ditunjuk.
   4. Reksadana, investor menyerahkan uangnya untuk dikelola, dibelikan porto-folio (campuran atau gado-gado) saham, sehingga dijamin dapat keuntungan dengan prosentase tertentu secara tetap. Kerugian ditanggung pengelola reksadana, dan biasanya pemerintah ikut menjamin. Daripada kita belanja sendiri dan meracik sendiri sayuran dan belum tentu laku dijual (malah rugi beli sayur dan busuk), lebih baik langsung beli ke tukang gado-gado, jelas enak dan kalau dijual lagi masih ada yang mau beli. Tukang gado-gado inilah lembaga reksadana, hanya saja yang dia campur bukan sayuran tetapi saham-saham, surat berharga lainnya. Tukang gado-gado tentunya mengambil untung.
   5. Sekuritisasi,








ILMU

Oleh karena keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya, maka tulisan ini berhenti sampai disini, dan akan dilanjutkan kembali setelah keterbatasan tersebut telah terpenuhi.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar